0

UNTITLED. chapter 2

Saturday, April 23 2011- 13.08 @ Leticia Boutique

Sedaripagi aku sudah berada di Leticia untuk membantu mama mengecek stock baju-baju impor yang didatangkan dari Milan dan Paris khusus untuk butik ini. Koleksi pakaian yang dijual oleh mama memang berkualitas tinggi, tidak mengherankan apabila harganya juga selangit dan pembeli yang menjadi pelanggan berasal dari kaum-kaum terpandang. Aku sendiri tidak menolak bila mama memberikanku beberapa helai pakaian butiknya --yang tentunya selalu ia lakukan setiap ada stock baru.

Aku melirik jam tangan dan menyadari bahwa hari sudah siang. Pantas saja perutku sudah mulai rewel. Rencananya aku dan kakakku akan makan siang bersama sementara mama masih ada meeting dengan suppliernya yang berada di Eropa. Sudah dua hari sejak pertemuan terakhirku dengan Jendra, Callista dan pacarnya, Keenan. Ya Keenan Radjasa. Pepatah yang mengatakan bahwa dunia hanya selebar daun kelor, berlaku kali ini. Janitra Radjasa, yang tak lain adalah ibunya Keenan merupakan salah satu pelanggan setia Leticia. Ayahnya adalah pemilik perusahaan rokok terbesar se-Indonesia, Govinda. Aku tidak pernah tau kalau tante Jani mempunyai anak bernama Keenan. Yang aku tau hanya Kenzo Radjasa, yang masih berusia 17 tahun. Callista tampaknya jatuh cinta setengah mati dengan Keenan. Siapa yang tidak menyukai pria super tampan itu? Ah, beruntung sekali sahabatku mendapatkan Keenan sebagai pacarnya.

Tuk. Aku memukul kepalaku sendiri dengan pensil. Ngomong apa sih aku.

"Ruby belum datang ya?" pertanyaan mama membuyarkan lamunanku. Ia sedang sibuk menatap layar komputernya dengan jemari yang tidak berhenti mengetik. Rambut panjangnya digelung ke atas dan sebuah jepit bunga mempermanis tatanan rambutnya. Mama selalu tampil sempurna dimanapun dan kapanpun. Dalam sekali lihat, orang dapat dengan mudah menebak bahwa semasa mudanya, mamaku pastinya bukan orang biasa. Dia memang mantan model terkenal di tahun 1980-an, Nareswari Jingga Wirasena --ketika dia masih belum menyandang nama Danubrata. Walaupun sibuk dengan bisnis butiknya dan kehidupan socialite-nya,mama tidak pernah lupa untuk memberikan kasih sayang dan perhatian pada kedua anaknya.

"Belum, Ma. Mama taulah kebiasaannya Mas Ruby. Ngaret. Apalagi dia dari arah Bintaro." sahutku seraya meraih blackberry untuk menghubungi kakakku itu.

Mama tertawa kecil."Rencana mau makan siang dimana, sayang? Sorry ya mama nggak bisa join. I'm a lil bit hectic today."

"It's okaay mommy."Aku tersenyum, "Kayaknya mau di Convivium deh. Tadi Mas Ruby bilangnya sih lagi pengen red velvet."

"Nggak kejauhan? Emang di daerah Kemang nggak ada red velvet yang enak? Mending kamu makan aja di rumah daripada jauh-jauh ke panglima polim. Dari sini ke rumah cuma 5 menit."

Rumahku berada di kawasan Kemang dan untungnya, Leticia Boutique hanya berjarak sekitar 300km dari rumah sehingga mama tidak perlu menghabiskan waktu di jalan untuk menuju butiknya.

"Hahaha. Masa muter-muter di Kemang mulu. Bosen. Sebentar Ma, aku telf Mas Ruby dulu."

Sebuah lagu Jason Mraz mengalun selama menunggu teleponku dijawab oleh kakakku.
Sedetik.. Dua detik.. Tiga detik.. Empat detik.. Lima detik.. En..

"Yes, darling?" suara riang khas Ruby terdengar di ujung sana,

"Ih, dimanaaa? Lama amat. Udah laper nih.." serbuku.

"Sebentar dong, Sharlene." Dia selalu memanggil nama depanku apabila aku sedang tidak sabar, "I'm on my way, will be there in 10 minutes. Udah selesai bantu mama?"

"Udaaah. Beneran yah 10 menit lagi sampe. Kalo telat, aku mau langsung pulang ke rumah aja."

"Iyaaa. Nyesel lho kalo pulang ke rumah hehe." suara Ruby terdengar menggoda.

"Kenapa?"

Tut. Tut. Tut. Rasa penasaranku harus kutahan karena sambungan telepon yang mendadak terputus.

Aku menggerutu kecil sebelum fokus kembali pada mama yang masih bekerja.

"Ma, " Aku membuka pembicaraan, "Mama kenal Tante Jani, kan?"

"Janitra Radjasa?" kali ini mama mengalihkan perhatiannya dari layar komputer untuk melirikku.

"Iya. Yang suka beli baju di sini. Anaknya ada berapa sih, Ma?"

"Hmm.. setau mama sih ada tiga. Yang pertama perempuan, udah nikah dan sekarang tinggal di Inggris. Terus ada lagi yang paling kecil, siapa ya namanya.. hmm. Ken.. Ken siapaa gitu. Kenzo kalo nggak salah"

"Anak keduanya?" tanyaku, semakin berkonsentrasi dengan cerita mama.

"Nah yang kedua yang mama paling nggak inget. Soalnya nggak tinggal di Jakarta juga. Yang jelas laki-laki, seumuran Ruby.", Mama memperhatikan ekspresi wajahku dengan seksama, "Kenapa sih emangnya? Kok tiba-tiba nanyain anak-anaknya Tante Jani?"

Aku segera mengalihkan perhatianku dengan pura-pura membaca majalah Elle yang tergeletak di meja sampingku, belagak tidak peduli. "Nggak apa-apa, Ma. Cuma penasaran aja karena aku abis liat profilnya Arnold Radjasa di tabloid Mitra. Itu suaminya Tante Jani kan? Pemilik rokok Govinda?"

Mama mengangguk. "Iya. Papamu kalau merokok selalu maunya merk Govinda. Soalnya rokoknya lebih sehat, pakai bahan-bahan verbal. Tapi buat Mama sih, yang namanya rokok dimana-mana nggak ada yang sehat."

Aku menganggukan kepalaku tanda setuju. Aku tidak suka rokok dan selalu membenci asap rokok. Sialnya aku dikelilingi oleh orang-orang yang gemar merokok seperti Papa, Ruby, dan Jendra.

Tidak lama setelah itu orang yang kunantikan akhirnya tiba. Ruby masuk ke dalam butik dengan langkah santai dan senyum penuh tebar pesona ke segala penjuru untuk menarik perhatian pengunjung, yang saat itu memang didominasi oleh wanita-wanita muda seumuranku.

Harus kuakui kakakku itu memang tampan. Wajah asli Indonesia dengan alis tebal dan brewok tipis menghiasi dagunya serta tubuh yang tegap, menjadi idaman para wanita. Kemeja kotak-kotak biru-hitam dengan kaos putih yang dikenakannya juga menambah tingkat kegantengannya saat itu.

"Hai, Ma" Ruby menghampiri Mama dan memberinya kecupan singkat di pipi.

"Hai sayang. Mama nggak ikutan dulu ya sekarang. Kerjaan lagi banyak yang harus dihandle."

"Oke. But dont forget to lunch Mrs. Danubrata"

"Don't worry, sayang." Mama tersenyum, "Yaudah sana buruan pergi makan. Nay udah uring-uringan daritadi kelamaan nungguin kamu."

"Oke Ma. Aku pergi dulu ya." Ruby otomatis merangkul bahuku dan segera melangkah keluar menuju mobilnya. Aku balas merangkul pinggangnya selayaknya orang pacaran. Jika kami bukan kakak-beradik, banyak yang bilang kami cocok menjadi couple karena kami sering beradegan mesra di depan umum. Bahkan aku juga sering dijadikan tumbal untuk menghindari cewek-cewek yang mengejarnya dengan berpura-pura menjadi pacarnya. Bisa dikatakan, kami kakak beradik yang sangat kompak.

"Soooo, where are we going?" Ruby menginjak gas dan mobilpun mulai melaju.

"I guess you're craving for some red velvets like now? Is Convivium the best answer?"

"You're indeed my little sister." Ruby memberikan sebuah jempol padaku.

0

UNTITLED. chapter 1

Thursday, April 21- 16.23 @ Twister Radio



Tok tok tok tok~

Suara ketukan yang menderu-deru menggetarkan pintu kaca yang memisahkan ruang siaran dan lorong luar. Aku tersenyum lebar memandang sang penyiar, Jendra, yang segera menoleh ke arahku dan memasang tampang sebal sebelum buru-buru menyudahi siarannya. Sore itu dia baru saja selesai memandu segmen 'Coffee Afternoon', yang bertujuan untuk menemani para kawula muda yang kemungkinan besar sedang bermacet-macet ria di jalanan Jakarta yang semakin hari semakin semerawut ini. Suara Jendra -- Rajendra Nasution-- memang bisa dibilang enak didengar dan tipe suara yang kalau didengar sambil menutup mata, langsung membayangkan bahwa pemiliknya berwajah tampan bak Chris Evans. Tetapi ketika membuka mata, well, aku tidak bilang dia jelek. Tapi jelas levelnya di bawah Chris Evans.

Jendra berpamitan pada staff-staff Twister Radio sebelum melangkah keluar menghampiriku. Dia menjitak pelan kepalaku kemudian memandangiku dari atas sampai bawah, seperti melihat sesuatu yang aneh.

"Lo saltum ya hari ini?" celetuk Jendra.

"Hah?", aku langsung menatap pakaian yang kukenakan sekarang. Tampaknya tidak ada yang janggal. Tank-top, bolero, dan short pants merupakan padu padan wajar. "Saltum gimana?"

"Kok gak pake kebaya sih? Hari ini kan hari kartini. Hahahaha", pemuda batak & jawa itu terkekeh keras lantas menghindar dari cubitan mautku - yang sangat dia benci.

Hai. Nama gue Rajendra Nasution. Biasa dipanggil Jendra. Gue seorang penyiar di Twister Radio dan jadi penyiar tetap untuk segmen 'Coffee Afternoon' setiap Selasa, Rabu, Kamis sore. Kerjaan sampingan aja sih, karena gue masih kuliah di Universitas Batavia. Gue suka baca, sama kayak Nay, si bawel yang ada di samping gue sekarang. Kita biasanya suka berburu buku bareng atau ngabisin waktu di Aimee's book kalo lagi nggak ada kerjaan. Gue dan Nay udah sahabatan dari SMP. Banyak banget yang ngira gue dan Nay itu pacaran. Padahal kita pure temenan, bertiga sama Callista juga, pemilik kedai kopi Clicheaulait, tempat selanjutnya yang akan kita tuju setelah ini.

"Lo dari kampus ke sini naek apaan?" Jendra membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan aku masuk --kebiasaan yang selalu ia lakukan dari dulu.

"Naik taksi. Hehehe" aku menjawab sebelum menghempaskan tubuhku ke jok mobil. Wangi parfum Burberry Brit for Men yang menjadi ciri khas sahabatku itupun menyerbu indra penciumanku.

"Gila lo. Nggak takut diculik, terus dijadiin tebusan."

"Ya nggaklah, ngapain juga nyulik gue." aku memasang seatbelt sembari menyalakan radio.

"Wiiih. Kalo tau elo anaknya siapa juga pasti banyak yang mau nyulik elo, neng." Jendra menyalakan mesin mobil dan bersiap melaju menuju Clicheaulait. "Lagian kenapa nggak mau gue jemput aja sih tadi?"

"Males ah. Kelamaan nungguin elo di kampus. Tadi Chia juga udah balik duluan karena ada kerjaan tambahan di Cook & Kiss. Masa gue mesti nunggu sendirian. Lagian kan elo tau gue nggak suka lama-lama di kampus.'" cerocosku.

Jendra tertawa mendengar celotehanku. Ia memasang CD Silverchair dan tak lama kemudian lagu The Greatest View yang menjadi favoritnya berkumandang ke penjuru mobil. "Sharlene Alnaira Danubrata. Ckckck. Lo tuh cantik, feminin, tapi geek banget. Nggak sadar apa cowok-cowok banyak yang mau sama lo. Nggak usah jauh-jauh deh, tuh si Ale saban hari nitip salam mulu buat lo. Gue sampe bosen."

Aku menguap dan mengambil blackberryku untuk mengecek sebuah pesan yang baru saja masuk. "Ah males males. Paling mereka deketin cuma karena nama belakang gue doang."

Danubrata. Siapa yang nggak tau nama ini? Keluarga Danubrata bisa dibilang salah satu nama yang paling tersohor dan dihormati di Indonesia. Papa -- Panji Danubrata-- merupakan pemilik perusahaan gas dan minyak yang bereputasi tinggi di Indonesia dan negara-negara tetangga; Lakhsamana Gas & Oil Company. Sedangkan mama -- Nareswari Jingga Danubrata-- seorang mantan model semasa mudanya, yang kini bergabung dalam komunitas Socialite, juga pemilik sebuah butik terkenal bernama Leticia Boutique. I'm in love with fashion, mungkin karena turunan mamaku. Terkadang aku juga suka membantu kerjaan di butik apabila sedang ada waktu senggang. Tapi jujur saja, itu bukan passion utamaku. Dengan nama belakang itu, sejujurnya aku tidak terlalu nyaman karena aku dituntut untuk menjaga perilaku di depan umum. Oleh karena itu aku lebih suka menyendiri saja, tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain. Sahabat dekatku hanya Jendra, Callista, Chia, dan buku. Oh ya, aku lupa menyebutkan kakak laki-lakiku tersayang, Ruby Andromeda Danubrata. Dia berbeda sekali denganku, dia sangat populer. Dan tentu saja, digemari para wanita karena parasnya yang tampan --selain uang pastinya.

"Eh si Callista ngirim bbm nih. Disuruh buruan dateng, dia mau ngenalin pacar barunya."

"Iyee, bilangin ini gue juga udh pol nginjek gasnya. Kayak nggak tau aja jalanan Jakarta. Dari Thamrin ke Pangpol aja bisa 2 jam. Eh, Siapa korban dia kali ini? Udah dapet yang mirip super junior belom?"

Aku terbahak-bahak mendengar ucapan Jendra. Ia benar. Callista sering sekali gonta ganti pacar. Hubungan cintanya paling lama hanya bertahan 3 bulan. Dia sangat menyukai boyband-boyband Korea yang saat ini sedang menjamur di Jakarta, namun sampai detik ini, belum ada satupun dari mereka yang sebelas duabelas dengan artis Korea favoritnya itu.

"Kadang gue heran sama dia, nyari pacar udah kayak nyari ketombe. Cepet banget dapetnya. Lah kita kok dari dulu jomblo terus." Jendra membenarkan letak kacamatanya sembari mengumpat pada sebuah motor yang tiba-tiba menyalip.

"Gue sih emang nggak nyari, dan gue nggak ketombean. Lo kaliii. Si Shalina apa kabar? Bagai punduk merindukan bulan? Hahahaha", aku menyebut nama seorang perempuan yang ditaksir Jendra dari awal kuliah.

"Damn. Hahaha. Shalina udah mau nikah kayaknya. MBA, gilaaa. Eh tapi gue nggak tau sih dinikahin apa nggak. Cuma denger kabar yang beredar aja. Sedih parah sih. Kalo MBA-nya sama gue nggak pake mikir langsung gue kawinin."

"Ah serius lo? Gila. Bener-bener ya jaman sekarang, udah makin banyak aja yang nggak bener. Untung gue terakhir pacaran pas SMA. Belom banyak yang bandel kayak sekarang. Makin males deh gue deket-deket sama cowok." sahutku.

"Lah? Gue? Lo anggep apa?" Jendra menunjuk dada dengan telunjuk kirinya.

"Emang lo cowok?" balasku, sebelum selanjutnya sebuah jeweran mendarat di telinga kananku.


17. 43 @ Clicheaulait.

Aku menunggu dua sahabatku dengan nafas tak beraturan. Sudah tak sabar ingin memperkenalkan pacar baruku ke mereka. Dalam hati aku berdoa semoga dia menjadi pacar terakhirku karena segala yang ada pada dirinya adalah sempurna. Tampan, mapan, gentleman, romantis, dan lain lain lain lain lainnya. Aku tidak berlebihan. Pria yang duduk di depanku ini merupakan pria paling perfect diantara mantan-mantanku sebelumnya. Mungkin kekurangannya hanya satu, dia tidak mirip artis Korea. Hahaha. Tapi aku tidak peduli. Sudah terbayang dalam pikiranku, setahun lagi, atau dua tahun lagi, akan terukir sepasang nama dalam sebuah undangan pernikahan, 'Callista Rais dan....'

"Annyeong!" Aku membuka pintu kedai dan menyapa Callista dengan sapaan khas Korea --kebiasaan yang ditularkan Callista padaku.

Clicheaulait sudah seperti rumah keduaku sehingga aku tidak sungkan apabila teriakanku itu menimbulkan tatapan aneh dari seisi pengunjung.

Callista tersenyum lebar begitu melihatku dan Jendra. Ia memelukku dan melakukan tos ala pemain basket kepada Jendra-- hal yang jarang ia lakukan, biasanya ia akan memeluk Jendra tanpa canggung. Mungkin karena di depannya berdiri seorang pria yang harus kuakui, sangat tampan. Inikah pacar terbaru Callista?

"Kenalin, ini cowok gue. Sayang, ini sahabat aku. Nay dan Jendra."

Pria itu menyodorkan tangannya untuk mengajakku bersalaman. Tatapannya tajam, dan senyumannya... olala. Kenapa hatiku berdegub kencang?

"Nay." aku menyebutkan namaku seraya menyambut uluran tangannya.

Pria itu mengangguk lantas balas menyebut namanya, "Keenan. Keenan Radjasa."

0

CHARACTERS.


Sharlene Alnaira Danubrata- Nay

Ruizi Mahesa Matsumoto- Rui

Callista Rais- Callista

Rajendra Nasution- Jendra


Chiara Sadina Soeradijaya- Chia

Ruby Andromeda Danubrata- Ruby

Keenan Radjasa- Keenan

Aiko Ganesha Matsumoto- Aiko

Ayumi Tatsuya- Yumi

0

They live on April 18th 2012.

Ruizi Mahesa Matsumoto
- berdarah jepang (Ayah; Shinji Matsumoto) dan jawa (Ibu; Karima Chandani)
- Mempunyai adik perempuan; sekaligus sahabat terdekatnya (Aiko Ganesha Matsumoto),
- language: japanese, bahasa, and korean
- 6 tahun tinggal di Jakarta, Indonesia sebelum akhirnya pindah ke Tokyo, Jepang mengikuti keluarganya. Saat SMA, dia melakukan pertukaran pelajar ke Korea sebelum akhirnya ia dan keluarganya kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di Universitas Nasional Jayakarta Jurusan Hukum.

Sharlene Alnaira Danubrata
- Gorgeous and feminine, but geek.
- The 2nd child in her big family. She has the 3 years handsome older brother (Ruby Andromeda Danubrata), a rich father, the owner of 'Lakshamana Gas & Oil Company' (Panji Danubrata) and an socialite yet fashionista mother; ex model (Nareswari Jingga Danubrata- Wirasena) -- Leticia Boutique's owner.
- She loves fashion, but it is not her main passion so she choose to take a psychology major in Universitas Nasional Jayakarta.
- Clicheaulait and Aimee's Book are her favorit place in this world beside her own room.

Chiara Sadina Soeradijaya
- Nay's bestfriend in college.
- A very honest & kind person, sometimes she can acts childish, she can't cook AT ALL but she loves cookies that much. She's expert in it, so she choose Cook&Kiss to be her side job.
- Anak tunggal yang sedikit manja dan tergila-gila dengan warna ungu.
- Kuliah di Universitas Nasional Jayakarta jurusan Psikologi.

Rajendra Nasution
- Batak & Jawa.
- Nay's boy-friend forever since high-school. bookholic, just like her.
- he's not the idol in campus, but trust me, he's charm.
- humorous and coffee-lover.
- He took Economy Major in Universitas Batavia but he has a side job as a broadcaster at Twister Radio. His voice is definitely GOOD.

Callista Rais
- Nay's best friend like foreveeer. Bersekolah di tempat yang sama dari SD-Kuliah. But she took Germany Literature Major in Universitas Nasional Jayakarta.
- Memiliki sebuah kedai kopi bernama 'Clicheaulait' yang menjadi tempat nongkrong favorit Nay & Rajendra.
- A korean lover and good in photography. She brings SLR here, there, and everywhere.

Ayumi Tatsuya
- Sahabat Rui semasa tinggal di Jepang.
- She's pure japanese and doesn't know at all about Indonesia and can't speak bahasa, of course.
- She's nice, soooo pretty, innocent, a model, but she lost her first love who move to Indonesia.

Keenan Radjasa
- Ruby Andromeda's bestfriend. Ashton Kutcher look-a-like with england, manado, and java blood.
- Good-looking, gentle, everybody loves him, but ya know, playboy is his middle name.
- 23 y/o without intention to find a steady girlf.
- His parents (Father: Arnold Radjasa, Mother: Janitra Elizabeth Radjasa- Hamilton; Nareswari's friend) are the big 10 rich people in Jakarta (Pemilik perusahaan rokok Govinda).

0

Kids Name.

Rui (Penuh Kasih Sayang)- Japan

Rajendra (Raja yang Agung)- Sansekerta
Alnaira (Berkilauan)- Arab
Fabio (Petani Kacang)- Latin
Allegra (Riang Gembira)- Latin
Carlo (Kuat seperti Laki-laki)- Inggris
Indira (Indah; Menakjubkan)- Hindi
Austin (Yang Mulia)- Latin
Diego (Pengganti; Cadangan)- Spanyol
Aozora (Langit Biru)- Japan
Sharlene (Wanita)- France
Shalina (Rose)- Spanyol
Ruby (Batu Mulia)- France
Leticia (Senang)- Latin
Mahesa (Aturan yang Kuat)- Sansekerta
Ganendra (Pasukan Dewa)- Sansekerta
Rania (Bangsawan)- Sansekerta
Sadina (Pemilik Kebaikan)- Sansekerta
Callista (Yang Tercantik)- Yunani
Chiara (Jernih, Terang)- Latin

1. Ruizi Mahesa Matsumoto
2. Sharlene Alnaira Danubrata
3. Chiara Sadina Soeradijaya
4. Rajendra Nasution
5. Callista Rais
6. Shalina Herpriadi
7. Keenan Radjasa
8. Ruby Andromeda Danubrata

0

H-9 before turn to 23

Alhamdulillah.


All I wanna do is saying this word.
Alhamdulillah for your miracle, dear my Lord.

I got my bachelor degree, the title S.Psi on my last name on 29th March 2011.
And yesterday (13.03.12) I'm officially Ramadhian Aristhi, S.Psi :)

11 days before I'm going to 23 years old.

It such the whole hole in my heart was disappear. I'm done with (at least for now) my last education. This is a new beginning, welcome to the real life!

Maybe I'm not graduate in my highest score, but this is the best I can do.

I wanna say thankyou to Allah SWT, my family, my friends for giving the prayer, strengths, and supports for me. THANKYOU SO MUCH. I LOVE YOU ALL.

Now let's celebrate it with Korea all the timeeeee!

0

Happy Birthday Cho Kyuhyun



1223.
3 Februari 2012.

Selamat ulang tahun untuk lelaki paling tampan, hebat, berbakat, bersuara emas, dan tersayang..
Cho Kyuhyun.

Kau menginjak usia yg ke 25 hari ini. Apa resolusimu di usiamu yg skrg? Aku hanya berharap kamu mendapatkan istirahat yg cukup tahun ini, mengingat aktivitasmu yg semakin beragam dan tak kunjung berakhir. Apa kamu masih sempat bermain games2 favoritmu itu? Aku tidak yakin. Dan jgn sekalipun menggunakan waktu tidurmu untuk bermain games. Apa kau tau sering tidur terlalu malam dpt memicu penyakit jantung dan diabetes? Aku tidak ingin kamu mati muda. Aku masih ingin melihat senyum evilmu dan keisengan2 yg kau lakukan kpd hyung2mu.

Satu hal lagi yg kupinta, tolong kurangi hobi minum2mu. Itu tidak baik untuk kesehatan. Walaupun aku tau kamu sangat kuat untuk urusan yg satu ini, tp sungguh.. Coba dikurangi ya. Contohlah Lee Hyukjae yg tidak pernah menyentuh alkohol dan rokok.

You have no idea how happy I am everytime you upload your pic with kyuline~ melihat senyum yg kau kembangkan setiap kau berkumpul dgn sahabat2mu, tidak ada yg lbh menyenangkan drpd itu. Aku harap kalian semua dpt memiliki lbh byk waktu utk bertemu di tahun ini. Sesama sahabat berada dalam satu tempat, bercanda dan bersenda gurau.

Doaku untukmu agar selalu diberi kesehatan dan karier yg semakin cemerlang. Maafkan aku jika terkdg aku egois, tidak suka melihatmu dgn wanita lain walaupun itu hanya krn tuntutan pekerjaan. Semua wanita yg merasa memilikimu, pasti akan merasakan yg kurasakan.

Once again, happy birthday Kyuhyun. Secepatnya kita akan bertemu di negeri singa :) tunggu aku ya.

w love,
LHN